Saturday, September 20, 2008

Bapak Peter Japri, dalam kenangan

Bapak Peter Japri, Ketua Yayasan & Kepala Sekolah SMA Josef.

Sosok yang kukenal mulai tahun 1977. Jap RI, Beliau sering mengartikan namanya. Ketika masa mudanya, sangat jarang warga keturunan Tionghoa yang berpendikan, mau bekerja sebagai pegawai pemerintah (Pegawai Negeri), apalagi menjadi guru, yang saat itu terkenal dengan standar gaji rendah dan kering.

Kecintaan (panggilan) Beliau sebagai guru, juga terimbas ke dalam kehidupan menggerejanya. Gereja harus memiliki sekolah yang baik, sebagai ujud karya Gereja dalam bermasyarakat. (Pro Exclesia et Patria). Beliau bersama beberapa tokoh Gereja, termasuk Pastor Lambret, mendirikan Yaysan Pendidikan "Tunas Karya", yang diharapkan mampu menghasilkan tunas -tunas bangsa bagi bangsa dan negaranya.

Ia sosok yang sangat sederhana, sebagai Ketua Yayasan sekaligus Kepala SMA Yosef Pangkalpinang, berpenampilan hampir sama dengan guru biasa. Hingga berhenti bekerja beliau hanya punya kendaraan sepeda dan rumah sederhana yang tidak seberapa besar. Juga dalam hal pergaulan, hampir tidak ada batas oleh jabatan termasuk usia.

Walaupun kami pantas jadi anaknya, beliau selalu memanggil dengan awalan Pak. Kata beliau itu bentuk penghormatan profesi guru. Harus dari para gurulah yang mau menghargai profesi guru dan oleh karena ada guru, maka ada dokter, insinyur, hakim, bankir, jenderal dan yang lain-lain. Hubungan antar guru dan karyawan penuh dengan persaudaraan.

Menjadikan pintar anak-anak, apalagi yang miskin, adalah tugas sekolah, agar bisa memperbaiki hidupnya. Maka diusahakan uang sekolah tidak memberatkan orang tua siswa. Bagi yang mampu diharapkan bisa memberi uang yang lebih dan bagi yang kuang mampu, ya membayar sesuai kemampuannya dan bila benar-benar tidak mampu, tidak perlu membayar uang sekolah.

Sosok Peter Japri, akhirnya sedikit mengubah image warga keturunan dalam pandangan orang-orang pribumi maupun kalangan pemerintah. Bahwa ada orang keturunan yang peduli dengan pendidkan di daerahnya, bahwa ada warga keturunan, yang tidak sekedar mencari keuntungan/uang tanpa peduli lingkungan. Tak salahlah kiranya kalau kita menghargai Beliau sebagai tokoh pembauran atau malah bisa disebut pahlawan, karena Beliau telah memulai sebelum pemerintah melaksanankan pembauran yang kadang kesannya dipaksakan dan kurang alami.

Dalam kebersamaan Beliau dengan para guru, Beliau hadir bukan sebagai atasan atau pengawas, namun sebagai teman sekaligus Bapak, sehingga hubungan kami sungguh nyaman apapun "situasinya". Saat itu SMA Yosef tidak/kurang memenuhi standar sekolah, gedung numpang SMP St.Theresia, masuk sore hari, tenaga guru banyak tenaga honorer. Keakraban yang dialami para guru akhirnya juga terasakan oleh para siswanya. Hubungan antar siswa, hubungan guru dengan para siswa, bahkan hubungan antara guru dan orang-tua siswa begitu familier. Mungkin sulit dicari di sekolah-sekolah yang jauh lebih "maju".

Sebagai pengurus Yayasanpun Beliau tidak pernah menghadirkan diri sebagai atasan para karyawan. Teguran, apalagi sangsi jarang keluar atas nama Beliau, yang sering justru sapaan dan bimbingan yang disampaikan.

Setelah Beliau tidak aktif di Yayasan maupun di sekolah memang sulit untuk mendapat beritanya. Yang jelas, pernah Beliau berobat di Singapura karena jantungnya, apakah berita itu juga sampai terdengar oleh orang-orang yang pernah merasakan sentuhannya. Ketika beliau meninggalpun sedikit publikasi dari Sekolah dan Yayasan yang pernah dirintisnya.

Beliau tidak pernah menuntut, bahkan mungkin Beliau merasa senang, bahwa sekolah yang pernah dirintisnya sudah berkembang menjadi sekolah yang lebih baik. Benarkah kita telah melupakan? Paling tidak melalui doa-doa yang kita panjatkan dikala ingat tentu menjadi penghiburan dalam masa penantian di api pencucian.

Selamat jalan Pak Jap, terima kasih atas semua yang telah Bapak berikan, maafkan kami yang tidak bisa membalas budi. Semoga Allah Bapa menerima segala amal baik Bapak dan segera mengundang Bapak masuk dalam kerajaanNya. Amin

Tulisan oleh Bapak Djoko Purwanto, Batam, Sept 20, 2008

No comments: